About

Proin accumsan urna in mi. Aenean elementum egestas tortor. Donec neque magna, auctor a, dapibus sit amet, facilisis sit amet, ligula..

Free Trade Agreement

January 20th, 2010

Semenjak 01 Januari kemarin Indonesia  telah memasuki era  perjanjian perdagangan bebas dengan China dan Asean. Walaupun pembahasan ini telah berlangsung cukup  lama, tetapi terkesan  saat ini  pemerintah merasa kedodoran, saling mengcounter pernyataan antar departemen, apalagi hampir  sebagian menteri di departemen terkait berwajah baru .

Bagi beberapa pelaku usaha, berlakunya FTA ini menjadi perhatian cukup serius, tetapi ada juga yang menganggap masalah ini  tidak begitu penting “Ah kita kan biasa bersaing mas, yang penting kita harus  tetap optimis “ sahut beberapa teman yang sering ngobrol dengan saya.

Dalam industri clothing & distro yang notabene mengusung semangat produk lokal, kebijakan pasar bebas saat ini , dapat di lihat dari beberapa  sudut pandang yang berbeda-beda. Ada yang menyambut positif ada juga yang menyambut dengan cemas.

Saya sempat diskusi banyak dengan beberapa supplier bahan kaos untuk clothing saya ( Raxzel )

“ wah pak, nanti bahan kaos bakalan lebih murah lagi dong “ tanya saya,

“ belum tentu mas, import bahan kaos seperti ini kan, seperti ada jaringannya yang memonopoli, betul sih lebih murah untuk importir langsung, tetapi kalau sudah di tangan kita juga itung2 annya juga sama aja “

Ada juga yang mengeluh seperti ini :

“ lho pak kok sepi pabriknya ? “ Tanya saya

“ sudah dari habis lebaran tahun kemarin pak, produksi saya stop dulu, habis kalau saya hitung2 lebih murah saya beli dari importer dari pada saya produksi sendiri, makanya sementara saya trading saja dulu , malah lebih cepat cashflownya dan nggak pusing lah .. he..hee, jadi pabrik sekarang saya jadikan gudang saja dulu  “ cetusnya

Dampak langsung saat ini mungkin belum  terasa, tetapi  melihat & mencermati kebijakan yang di ambil pemerintah sepertinya jauh dari siap, tidak terkoordinasi apalagi di banding dengan negara-negara Asean yang lain.

Saya pribadi melihat dari sudut pandang perbankan, betapa bank bank kita ( walaupun bank BUMN ) mereka  begitu “rakus” mematok suku bunga kredit sangat tinggi , yang masih berkisar di angka 14% jauh di banding dengan bunga kredit di negara lain yang hanya 4%. Bank bank di Indonesia menikmati Net Interest Margin (NIM ) yang cukup besar , bayangkan berapa margin dari selisih antara bunga deposito dan bunga kredit yang di jual …. Fantastis  !!

Yang jelas & pasti, pengusaha2 kita membayar bunga jauh lebih mahal di banding Negara lain, yang berakibat produk kita juga tidak kompetitif di pasaran, belum lagi masalah pungli “ resmi “ yang berlabel peraturan daerah .

BI sebagai otoritas moneter sepertinya nggak punya gigi untuk “menekan” bank untuk segera menurunkan suku bunga kredit . Ditambah lagi hampir semua bank-bank  swasta telah menjadi  milik asing yang lebih suka menyalurkan kredit konsumtif seperti kartu kredit, KTA dll.

Tidak salah memang kalau bank asing selalu mengincar bank-bank di Indonesia yang akan di jual termasuk BPR. Baru sekarang di ributkan soal tidak berjalannya asas “reciprocal” di mana bank asing sangat leluasa untuk berekpansi di Indonesia, sementara bank dari Indonesia sangat sulit untuk membuka cabang di Negara lain .. hmm … ironis sekali L

Memang tidak ada kata lain bagi kita untuk tetap siap menghadapi liberalisasi perdagangan saat ini, UKM2 Indonesia terkenal sangat ulet, tahan banting dan inovatif, biar pemerintah yang mengurusi hal2 itu.

Business must go on !

Try Atmojo

owner : www.raxzel.com

Buku yang telah lama masuk dan keluar dari tas saya , keluar masuk dashboard mobil….. sampai kusut  ( maklum buku yang nggak selesai-selesai di baca  <img src="http://tryatmojo.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/happy.gif" style="border:none;background:none;" alt="happy" /> )

Buku ini begitu menarik perhatian saya, membahas tentang perubahan  perilaku manusia dan perusahaan dalam cara berbisnis, bersosial sebagai konsekuensi dari pesatnya perkembangan tehnologi.

Era web 2.0  merubah banyak perusahaan, bagaimana sebuah perusahaan mulai memikirkan, merancang, membangun dan mendistribusikan barang dan jasa dengan cara-cara baru yang inovatif dan menarik, dengan biaya yang semakin murah, dan inovasi yang semakin tinggi.

Perubahan besar dalam teknologi, demografi dan ekonomi global telah mampu membentuk  kekuatan produk jenis baru, dengan tenaga tenaga  riset handal yang tersedia hampir ada di pelosok bumi, telah melahirkan peluang – peluang baru, jutaan orang kini telah menggunakan blog, jurnal pribadi/chat dll, mereka saling berdiskusi mengkolaborasi ide tanpa ada lagi  batasan negara dan bahasa ( google translate )

Dunia adalah divisi riset anda

Membuka diri terhadap arus ide dan gagasan yang bertebaran di mana-mana, divisi R & D tidak lagi menjadi sebuah divisi yang exclusive, monopoli pengetahuan dalam ekonomi industri mungkin akan segera berakhir. Perusahaan dapat mencari,menggali, memfasilitasi gagasan2 tersebut, sehingga membentuk keterhubungan antar mereka dan mentransfer gagasan tersebut secara internal.

Pasar dunia tentang gagasan dan ide sudah banyak terbentuk seperti Innocentive di mana di situ terjadi interaksi antara pencari gagasan ( seeker ) bertemu dengan penyedia gagasan ( solver ). bersama membentuk co-creation dengan platform penghubung dalam menjalankan proses pengembangan dan riset perusahaan.

Bagaimana sebuah perusahaan tambang di Kanada Goldcorp Inc yang sedang di ambang kebangkrutan mampu bangkit kembali, hanya dengan menerapkan gagasan yang tidak lazim dan “gila”. Adalah McEwen memberi gagasan untuk meng “opensource” kan data-data penting dan eclusive geologinya, memasukan ke dalam file dan mengungkapkannya pada dunia. Tantangan GoldCorp ini di sambut sangat antusias oleh partisipan. Dengan hadiah sebesar $ 575.000 bagi partisipan yang mampu memberikan metode dan estimasi titik cadangan emas di tambangnya.

Dalam tempo singkat kontes ini menyebar di internet, dan lebih dari 1000 prospektor dari lebih 50 negara ikut terlibat di dalam kontes ini. Para kontestan telah mengidentifikasi temuan2 baru, yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh ahli geologi GoldCorp sendiri, faktanya lebih dari 80% hasil kontes tersebut telah menghasilkan lebih dari 8 juta ounces emas !

Procter & Gamble telah sukses juga membangun hubungan dinamis berdasarkan kepercayaan dengan kolaborator global untuk mebentuk ekosistem bisnis yang lebih luas, lebih dinamis dan inovatif.

Buku Wikinomics ini sebagai hasil riset senilai $ 9 juta yang di pimpin oleh Don Tapscott menunjukkan bagaimana semua orang dapat berpartisipasi dalam perekonomian, menciptakan berita, meremiks music, merancang piranti lunak, membuat ramuan obat baru, mengedit ensiklopedia, menjual gagasan dan lain lain

Buku ini sangat menarik, bagaimana kita memandang jauh ke depan, mengantisipasi perubahan, merancang strategi baru dalam menghadapi arus dinamika tehnologi saat ini, karena menurut Don Tapscott kita hanya ada 2 pilihan : Berubah atau Mati.

Siapkah kita ??

Try Atmojo

owner : www.raxzel.com

TDA Management menghadirkan workshop full day yang sangat aplikatif dan mendalam

” Mengelola Toko dengan Efektif dan Efisien untuk memaksimalkan profit”.

Di tengah persaingan yang kian kompetitif sekarang ini maka sudah bukan hal yang aneh ketika pelaku usaha/bisnis ritel mengeluhkan turunnya angka penjualan secara signifikan dan terus menerus.

Ketika hal itu disadari sayangnya ternyata mereka sudah ditinggalkan pelanggannya. Pelanggan ternyata tidak loyal. Memang ada beberapa hal yang membuat pelanggan menjadi loyal. Jika Anda punya produk yang tidak dimiliki oleh pesaing maka mau tidak mau pelanggan akan kembali ke Anda. Memang tidak selalu berarti pelanggan loyal, mungkin juga terpaksa, karena tidak ada pilihan. Persoalan menjadi lain kalau produk kita tidak memiliki keunggulan lebih dibanding pesaing.

Fasilitator Pelatihan: Christian F. Guswai praktisi, trainer, konsultan Manajemen Bisnis Ritel dengan pengalaman lebih dari 19 tahun di berbagai format bisnis ritel department store, wholesaler, supermarket, hypermarket, fashion store, dan speciality stores lainnya.

Hari/Tanggal : Sabtu 14 November 2009

Materi : ” Mengelola toko dengan efektif dan efisien ”

Waktu : 09.00 – 16.00

Tempat : Tentative Free : Buku dari Pak Guswai

Investasi : Rp 250.000,- (Umum) Khusus member TDA Rp 190.000,-

Tempat terbatas, hanya untuk 50 peserta.

Caranya :Transfer biaya Investasi terlebih dahulu melalui Rekening :

Bank BCA no. 3451528643 an Dwi wahyono

Jangan lupa tambahkan 3 digit terakhir no HP Anda pada saat melakukan transfer untuk memudahkan identifikasi transfer, misal : no HP Anda 08XXXXXX123 maka jumlah yang harus Anda transfer adalah Rp. 190.123,-.

Setelah transfer segera lakukan konfirmasi melalui email ke : tda_eo@yahoo.com dengan menyebutkan : ” Tanggal Transfer – Nominal Transfer – Nama Peserta – No HP” Peserta yang masuk ke dalam daftar hanyalah yang telah melakukan transfer ke rekening TDA EO.

Salam,

TDA EO

Wanted ! Kepala Toko yg Ideal

October 13th, 2009

imagesBisnis retail, terutama retail fashion (distro) sebagai ujung paling depan lini penjualan produk produk clothing sangat memerlukan seseorang kepala toko ( store manager ) yang handal, berdedikasi, sales oriented dll Seorang kepala toko, adalah orang yang langsung memimpin teamnya dalam melayani customer, mencapai target , menjaga image , membangun relasi customer dll.

Memang gampang – gampang susah mencari orang dengan kriteria seperti ini , pengalaman saya sendiri untuk posisi seperti ini sering bongkar pasang ? Apa saja syarat minimal seorang kepala toko :

1. Mampu memimpin team

Walaupun di lingkungan toko tidak banyak jumlah karyawannya, bisa jadi mungkin hanya 3 atau 5 orang saja. Akan tetapi dia harus mampu me-manage teamnya, dari mulai menjaga disiplin kerja, menjalankan S.O.P , laporan penjualan dan keuangan toko, pelayanan customer, mengatur schedule kerja, memotivasi teamnya dll.

2. Berorientasi pada target penjualan

Sebagai lini depan penjualan, kepala toko wajib mengkomunikasikan angka2 target yang di tetapkan perusahaan kepada teamnya tanpa kecuali, serta intens memonitor hasilnya. Mempunyai system dan strategi sendiri untuk mencapainya.

3. Menguasai manajemen Inventory & Merchandising

Ilmu wajib yang harus di kuasai bagi kepala toko adalah manajemen barang. Bagaimana dia mengatur kebutuhan barang, menghitung perputaran, jeli melihat barang mana yang fast moving dan mana yang slow moving atau dead stock. Sehingga mampu menekan cost dan menjaga fleksibelitas pembayaran ke supplier. Membuat schedule & laporan rutin posisi stock barang ( stock opname ). Selain itu kepala toko juga harus mampu menguasai bagaimana menempatkan/display barang, assortmen, sehingga atmosfir dan suasana toko terlihat nyaman, lengkap dan menyenangkan bagi customer.

4. Membangun relasi & Marketing

Membuat aktifitas dalam menarik customer, berpromosi, berinteraksi serta menjaga hubungan baik dg customer dan lingkungan sekitarnya. Bisa juga dengan menyusun database customer, meminta masukan tentang keadaan toko, barang dan lain-lain. Menciptakan penampilan toko yang menarik, bersih,nyaman, eye catching sehingga calon customer tertarik untuk datang.

5. Menguasai Negotiation skill

Mampu dan luwes dalam negosiasi baik dengan supplier atau dengan pihak lain ( misalnya join promotion, membuat perjanjian consignment barang dll ) Sehingga dapat meningkatkan sales/margin, meringankan cash flow atau menekan biaya.

6. Administrasi

Administrasi walaupun kelihatannya sepele namun bila tidak ditangani dengan baik dapat merugikan toko, karena rata-rata 20% kehilangan barang, bersumber dari penaganan administratasi yang kurang baik. Jadi selalu terapkan 1 day administration, artinya tidak ada kegiatan administrasi yang ditunda sampai hari esok, semuanya harus selesai pada hari itu juga.

Percuma juga salesnya tinggi tetapi angka kehilangannya barangnya juga tinggi. Kepala toko harus menguasai area toko, area yang rawan tindak pencurian dari customer, atau kebiasaan2 karyawan yang dapat menimbulkan kehilangan barang, mengingat bisnis retail fashion memangae ratusan bahkan ribuan artikel & varian produk

7. Mempunyai commonsense yg tinggi

Kepala toko harus selalu cepat tanggap dalam merespon segala permasalahan yang ada di toko, baik menyangkut masalah karyawan, operasional took, customer, supplier maupun pihak external lainnya . Jangan menunda masalah, seandainya bisa selesaikan segera kenapa harus ditunda.

Betapa idealnya mempunyai Kepala toko seperti itu ?, akan tetapi memang tidak mudah membentuk karakter2 tersebut, perlu waktu, pelatihan intensif, komitmen dan kesabaran kita sebagai owner.

O ya… ada yang tertarik mau melamar posisi tersebut ?? silahkan email CV nya ke : try_atmojo@yahoo.com

Salam sukses

www.raxzel.com

www.tryatmojo.com

www.tryatmojo.wordpress.com

www.tryatmojo.blogspot.com

www.posterous.com/tryatmojo

www.twitter.com/TryAtmojo

Pertanyaan2 seperti hampir sering di sampaikan ke saya baik ngobrol, chating ataupun via email. Memang utk sebagian orang yang sudah lama menekuni usaha retail terutama, pemilihan lokasi mungkin bukan hal yang terlalu sulit, akan tetapi buat yang baru mau terjun pertama kali membuka toko biasanya pemilihan lokasi akan sangat hati2 penuh pertimbangan, ragu bahkan saking lamanya berpikir, tiba2 malah keduluan di ambil orang atau bahkan mungkin kalah duluan dengan pesaing kita <img src="http://tryatmojo.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/happy.gif" style="border:none;background:none;" alt="happy" />

Bagaimana sih sebaiknya memilih lokasi toko/distro, faktor2 apa saja yang perlu di perhatikan dalam menentukan lokasi toko. Pengalaman saya sendiri pribadi dalam menentukan lokasi distro,tidak semua tepat, ada yang salah bahkan ada juga dalam waktu 8 bulan ada yang langsung saya tutup karena sepi pengunjung <img src="http://tryatmojo.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/sad.gif" style="border:none;background:none;" alt="sad" /> .

1. Dekat dengan target market.

Pastikan siapa target market produk anda, apakah utk kalangan tertentu, umur tertentu Atau mungkin lebih spesifik lagi. Satu nilai tambah untuk toko anda, bisa menjangkau market lebih dekat, sehingga customer lebih mudah untuk mengunjungi,lebih hemat waktu serta biaya bagi customer.

2. Gampang terlihat ( viewable )

Bisnis retail, apalagi distro fashion lokasi yg strategis dan gampang di lihat, akan sangat memudahkan menarik customer dan meminimalisir biaya promosi (pengenalan lokasi misalnya) Apalagi ditambah dengan papan nama/signage yg mencolok, unik sekaligus eye catching.

3. Traffic

Arus lalu lalang orang atau kendaraan.. Untuk konsep toko atau distro yang menganut konsep Independent Store. ( Berdiri sendiri di luar komplek pertokoan, pusat perbelanjaan, mall ). Kepadatan traffic akan berpengaruh terhadap pengunjung toko.

4. Akses

Penting juga di perhatikan arus lalu lintas apakah satu arah atau dua arah, apakah letak toko kita ada pada sisi arah orang pulang beraktifitas atau arah berangkat orang beraktifitas. Bagaimana customer mudah mengakses menuju toko kita, apakah ada median jalan sehingga perlu memutar balik apabila menggunakan kendaraan.

5. Sharing area atau monopoli area

Pertimbangan pemilihan lokasi seperti ini, sama sama mempunyai resiko.

Sharing area :

Adalah lokasi yang kita pilh dengan alasan di lokasi tersebut sudah ada toko sejenis atau kompetitor, otomatis resiko memilih .lokasi seperti ini kita sudah siap utk berkompetisi dalam segala hal. Akan tetapi keuntungannya kita masuk di area yang sudah pasti ada market,tidak perlu mensurvei lagi, selain itu kita tidak perlu mengedukasi pasar lagi.

Monopoli area :

Kita memilih lokasi yang benar2 belum ada pesaing, dengan resiko kita harus mengeluarkan biaya ektra utk mempromosikan toko kita, perlu effort waktu dan biaya. Akan tetapi karena kita sendiri ada di area tersebut, maka kita akan lebih leluasa utk menetapkan harga, menikmati margin karena relatif tidak ada kompetitor.

6. Biaya sewa

Lokasi toko yang strategis otomatis mempunyai harga sewa yang tinggi. Bagaimana kalau selisih harganya dengan lokasi lain yang kurang strategis cukup besar ?? Sepanjang selisih harganya masih tercover dengan potensi yang akan di dapat, lebih baik memang memilih tempat yang strategis walaupun harga akuisisinya lebih mahal.

7. Legalitas

Aspek legal wajib diperhatikan, jangan sampai mengabaikan hal ini, terlalu beresiko apabila kita sudah memutuskan memilih lokasi tetapi di kemudian hari bermasalah secara dalam hal perijinan, regulasi kawasan serta lingkungan sekitar.

8. Lingkungan sekitar

Jenis usaha di kanan kiri toko kita akan sedikit berpengaruh terhadap image dan tidak langsung mempengaruhi minat kunjungan customer. Contoh : distro akan lebih cocok di deretan usaha warnet, game, cafe terlalu memaksakan diri apabila samping distro ada bengkel motor, atau malah toko bangunan <img src="http://tryatmojo.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/sad.gif" style="border:none;background:none;" alt="sad" />

Terlepas dari hal hal tersebut di atas, faktor insting bisnis sedikit banyak akan sangat berpengaruh dalam hal memilih lokasi tempat usaha/toko.

Semakin kita sering menjalaninya akan semakin mudah kita untuk memilih lokasi mana yang paling cocok, sehingga meminimalisir kerugian investasi di kemudian hari.

Selamat hunting lokasi !

Try Atmojo

A new youth culture, one that involves more than just the pop culture of music, MTV and the movies, is emerging out of N-Gen’s use of interactive media. It also involves the experience of being part of the largest generation in the world. We should pay attention to culture which will very soon create the workplace and the society of tomorrow

  1. Strong IndependenceThe typical N-Gener has a strong sense of independence & autonomy. N-Gen’s unprecedented access to information also gives them the power to acquire the knowledge necessary to confront information they feel may not be correct.
  2. Emotional and Intellectual OpennessWhen N-Geners go online they expose themselves. They will maintain online journals and post their innermost thoughts on a Web page or in a chat room. A strong online example of N-Geners’ openness is The Diary Project where young people around the world contribute their thoughts, feelings, experiences and aspirations.
  3. Inclusion N-Geners are moving toward greater social inclusion with technology, not exclusion. Their creative processes show a move toward global orientation in all of their activities. Check out a virtual community of about 30,000 N-Geners at Freezone.
  4. Free Expression and Strong Views Being exposed to a lot of information on the Internet is to their benefit, insists N-Gen, and is a key element of the Internet’s appeal and usefulness. This issue is discussed in The Generation Lap.
  5. Innovation N-Geners live and breathe innovation, constantly looking for ways to do things better. These expectations of constant change and the ability to build or construct experiences have implications in our discussion of N-Gen Thinking and the education of N-Gen in N-Gen Learning.
  6. Preoccupation with Maturity The changing nature of childhood makes itself most obvious when N-Geners are contrasted with the baby boomers who, as a generation, have spent their lives obsessed with being youthful. N-Geners insist that they are more mature than adults expect.
  7. InvestigationsWhen it comes to technology, N-Gen’s initial focus is not how it works but how to work it. It is important for children to understand the assumptions inherent in software and to feel empowered to change those assumptions.

When the Internet first became popular, one of the joys of surfing was never knowing what site you could end up at next. Search engines like Yahooligans have contributed to ending that level of mystery and uncertainty.

  1. Immediacy Interactivity and the speed of the Net have greatly increased the process of communicating. What used to take days or weeks, now takes seconds.
  2. Sensitivity to Corporate InterestN-Geners feel that much of the broadcasting material they see on television is there to satisfy corporate agendas. However, on the Internet there has been such a flurry of creation involving so many people working in home-grown cottage industries, that there is even more intense sensitivity to corporate interest.
  3. Authentication and TrustBecause of the anonymity, accessibility, diversity, and ubiquity of the Net, children must continually authenticate what they see or hear. Many sites provide inaccurate, invalid and even deceptive information. Pranksters spread false rumours. Who can the child trust? What sources of information are valid? Authentication of everything is required to establish trust.
    The proliferation of Internet hoaxes spread via e-mail has often been used to emphasize the inherent weakness of the Net. Don’t Spread That Hoax! is one site that gives credence to that question.

Source :

    Title: Growing Up Digital: The Rise of the Net Generation
    Author Don Tapscott
    Publisher: McGraw-Hill, New York
    ISBN: 0-07-063361-4

1. Munculnya industri baru

2. Pesaing baru mulai bermunculan

3. Perubahan positioning pesaing utama

4. Kebangkitan pelanggan baru ( perubahan selera konsumen )

5. Tekhnologi baru, yg bisa merubah landsekap bisnis anda

6. Berkurangnya market share  pada produk utama anda

7. Munculnya model bisnis dan manajemen baru

8. Margin laba semakin tertekan

9. Merosotnya cash flow

10. Merosotnya kepuasan pelanggan

11. Pelanggan mulai pindah ke produk lain

* by Ram Charan : Know How

Posted via web from tryatmojo’s posterous

Wawancara

September 11th, 2009

Ini salah satu cuplikan tulisan wawancara dengan sebuah majalah, yang sayang kalau terlewatkan :

1. Bisa diceritakan awal Mas Try melibatkan diri untuk terjun ke bisnis ritel dan memilih jalur wirausaha?
Jawab : Pada awalnya memang tidak berpikir jauh untuk terjun dan menekuni  bisnis ini, saya terpikir untuk mulai bisnis ini karena dari pengamatan dan sedikit survey kecil2an di industri ritel fashion ini. Kenapa memilih berwirausaha ? karena jalur ini yang relative paling mudah untuk mulai, hanya diperlukan keberanian, sedikit feeling dan yang lain bisa learning by doing J

2. Apa strategi awal dan tahap-tahapan apa saja yang dilalui di dalam memulai start-up bisnis?

Jawab :  Bisnis distro adalah bagian dari bisnis retail fashion pada umumnya, karena berkonsep independent store, mau tidak mau saya harus mencari dan memilih lokasi tempat/toko yang tepat. Target market distro adalah anak-anak ABG dan sebagian anak-anak kuliahan. Oleh karena itu dalam hal memilih lokasi store pun saya selalu mencari tempat yg memang banyak anak2 muda, bisa di jalan akses perumahan, akses ke mall ataupun tempat2 hangout favorit anak-anak muda.

Selain itu, strategi khusus untuk bisnis distro terletak pada bagaimana kita mengkonsep/layout toko, memilih jenis barang , membangun model promosi, serta membaca trend mode fashion.

3. Bagaimana gambaran bisnis Anda saat ini mulai dari omset dan cabang bisnis jika ada? Apa target bisnis Anda hingga akhir tahun ini dan apa saja yang akan disiapkan sebagai plan 2010?

Jawab : Bisnis distro pada saat ini telah menjadi semacam “gaya hidup” tersendiri. Konsumen type ini, adalah konsumen yang sangat loyal dengan trend atau mode, apalagi dalam komunitas mereka, apabila salah satu dari mereka mengenakan Tshirt atau tas terbaru, niscaya kemudian teman2 mereka yang lain akan mencari produk tersebut.

Dan terbukti industri ini sedikit lebih tahan banting di saat pasar garment kita di serbu oleh produk impor dari China yang jelas menawarkan harga yang sangat murah, akan tetapi dengan keunikan konsep, design dan cara jualan seperti ini kita mampu bertahan, bahkan semakin tumbuh.

Dari segi omzet penjualan, alhamdulillah masih stabil sesuai dengan session2 pada umumnya, dan saya sendiri pada saat ini mengoperasikan 6 (enam) outlet distro di wilayah Tangerang dan sekitarnya.

Target khusus tahun 2010, adalah mengembangkan brand saya “RAXZEL” agar semakin di kenal di industri ini, baik dari segi kualitas dan distribusinya.
4. Dari sisi SDM, industri kreatif memerlukan SDM yang unik, bisa diceritakan bagaimana Anda mengisi posisi ini mulai dari rekruitmen, pengembangan dan cara untuk mempertahankannya?

Jawab : Memang industri ini tidak terlepas dari pertemanan, serta komunitas. Dalam hal rekruitmen pada posisi2  tertentu seperti designer, creative,   memang kita agak selektif dalam rekrut posisi ini, karena terkait dengan selera/taste dari konsep brand/produk kita.

Tetapi untuk posisi2 lain seperti store manager, staff toko kita merekrut sdm2 yang lebih dekat dengan target konsumen.

Untuk pengembangan dan mempertahankan mereka, secara regular kita selalu berdiskusi, studi banding dan memberikan informasi2 terupdate tentang industri ini, selain dengan pola reward dan membangun ikatan personal.

5. SDM kreatif ini seberapa pentingkah bagi bisnis Anda dan seberapa besar perannya di dalam mendesain dan membuat produk-produk baru dibanding dengan peran Anda sebagai owner? Seberapa besar intervensi yang Anda lakukan dan seberapa besar wewenang yang Anda delegasikan kepada SDM kreatif ini?

Jawab : Untuk posisi designer dan creative dept, memang sangat besar perannya dalam industri ini, karena dari merekalah muncul ide, design dan konsep2  baru, akan tetapi saya sebagai owner memang masih banyak terlibat dalam menentukan tema, session edition dan finishing produk, agar tidak keluar dari karakter brand yang kita kembangkan.

6. Seberapa sering Anda membuat produk dan bagaimana pembagiannya dalam perencanaan bisnis selama setahun, misalnya apakah ada tema-tema dalam setahun yang bisa dibagi dalam rentang waktu tiap semester atau kuartal, atau Anda tidak menggunakan pola-pola tersebut alias ngalir aja dan tergantung mood? Bisa dishare cara Anda menyiasatinya?

Jawab : Perencanaan produk kita relative lebih pendek , karena memang siklus dari industri ini berkonsep “limited” produk. Dalam satu design kita hanya memproduksi maksimal 60 pcs, makanya kita harus selalu terus-menerus mengupdate tren2 terbaru, dengan banyak bergaul,surfing internet dll.

7. Bagaimana Anda memandang persaingan di industri kreatif ini dan apa strategi jitu yang Anda pilih untuk bisa tetap eksis dan berbalik menang dalam persaingan?

Jawab : Persaingan dalam industri ini memang semakin seru, dengan makin menjamurnya distro/clothing2 baru dengan mengusung konsep dan keunikan design masing2. Akan tetapi saya optimis, bahwa industri ini masih akan tetap eksis di tahun2 mendatang, kunci sukses industri ini adalah terletak  pada konsep design, kualitas dan kepekaan kita menangkap dan trend/mode juga membangun promosi, endorsement dan ketersediaan produk di masing2 titik distribusi.

Young Entrepeneur Awards

March 22nd, 2009


Harian Bisnis Indonesia & Bank Commomwealth bekerja sama untuk mengadakan YEA yg telah memasuki tahun ke-3, apa saja syarat, ketentuan dan manfaatnya bagi kita ??
Silahkan lihat di sini : Young Enterpreneur Awards

Muda-mudahan bermanfaat, umtuk pengembangan dan akselerasi bisnis anda.

Try Atmojo

Relokasi Distro

March 18th, 2009

Pemilihan lokasi ditro ternyata juga gampang-gampang susah lho…terbukti untuk yang kedua kalinya saya me-relokasi salah satu distro saya “Zerolabel”.
Lokasi sebelumnya sewa di mall dengan ukuran yg jauh lebih kecil di banding yang sekarang. Memang traffic pengunjungnya tinggi ,tetapi transaksinnya sih biasa-biasa saja.

Ternyata untuk bisnis retail (fashion) sangat di pengaruhi oleh luas area untuk display barang dagangan,semakin luas tempatnya memang semakin banyak barang yg di display juga , yg artinya makin banyak customer dapat melihat dan memilih-milih barang.

Idealnya memang luas outlet vs omzet harus berbanding lurus, berapa M2 menghasilkan omzet berapa, bisa antara 30.000 – 50.000/m2 per hari

Memang kalau di mall, kita nggak di pusingkan lagi bagaimana mendatangkan lead/pengunjung, karena otomatis dari pengelola mall yang mendatangkan, beda sekali dengan di luar mall ( Independent store ) kita di tuntut creative dan berusaha mendatangkan pengunjung. Memang sih…sebetulnya bisnis distro ini “culture” lokasinya lebih pas di luar mall. Karena biasanya distro itu bukan hanya sekedar buat tempat berjualan saja, tetapi sekaligus sebagai tempat ngumpul, ngobrol,kongkow2 anak2 muda.

Salam

Try Atmojo
Owner : www.raxzel.com